1. Pendahuluan
1.1
Deskripsi
Singkat
Pada bab ini mahasiswa akan mempelajari bagaimana langkah-langkah dalam
melakukan evaluasi kebijakan publik. Ini sangat penting untuk dijadikan pedoman
kegiatan secara keseluruhan. Evaluasi kebijakan publik secara umum dimulai dari
perencanaan riset evaluasi, pelaksanaan riset evaluasi dan tindak lanjut.
1.2
Relevansi
Setelah mempelajari materi pokok bahasan pada bab ini, mahasiswa
diharapkan mampu memahami tahapan atau proses dalam melakukan evaluasi
kebijakan publik. Sehingga evaluasi yang dilakukan dapat dimengerti secara
baik. Selain itu mahasiswa dapat menerapkan tahapan atau proses secara
komprehensif dalam melakukan evaluasi kebijakan publik.
1.3 Capaian Pembelajaran
1.3.1 Capaian Pembelajaran Mata Kuliah
Mahasiswa mampu merumuskan tahapan atau proses dalam evaluasi kebijakan publik secara runtut dan benar. Sehingga menjadi dasar untuk mengevaluasi kebijakan/ program yang dilaksanakan di masyarakat.
1.3.2 Sub-Capaian Pembelajaran Mata Kuliah
1. Mahasiswa
mengetahui dan menjelaskan bagaimana tahapan atau proses dalam melakukan
evaluasi kebijakan publik.
2. Mahasiswa
mampu menjelaskan pendekatan dalam evaluasi kebijakan publik.
1.4
Petunjuk
Pembelajaran
Bacalah tiap uraian dengan teliti. Kerjakan semua tes formatif (Pilihan
Ganda dan Essay).
2.
Penyajian
2.1
Tahapan
Evaluasi Kebijakan Publik
Langkah-langkah atau tahapan evaluasi kebijakan publik menurut Widodo
(2009:130-131) sebagaimana telah digambarkan secara teknis dapat
dioperasionalisasikan ke dalam beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Menentukan
kebijakan/ program/ proyek yang akan dievaluasi.
2. Menetapkan
kapan hasil evaluasi diperlukan.
3. Memformulasikan
tujuan dan kriteria pencapaian tujuan kebijakan.
4. Memilih
indikator-indikator pencapaian tujuan.
5. Menyusun
daftar pertanyaan pokok.
6. Menentukan
sumber data.
7. Menetapkan
metode pengumpulan data.
8. Menetapkan
metode analisis data.
9. Menyusun
laporan.
10. Tindak
lanjut.
Sedangkan tahapan riset evaluasi kebijakan tersebut, pada dasarnya
menurut Widodo (2009:131-136) dapat dikelompokkan dalam tiga kegiatan pokok.,
yaitu:
1. Perencanaan
Riset Evaluasi Kebijakan
Perencanaan dalam riset evaluasi
kebijakan antara lain meliputi beberapa aktivitas berikut:
a. Menetapkan
Kebijakan Publik
Kebijakan publik yang dikeluarkan
oleh suatu badan pemeritah cukup banyak macam dan jenisnya. Oleh karena itu,
penetapan kebijakan publik yang akan dievaluasi menjadi penting untuk menghindari
kemungkinan kesalahpahaman, baik bagi pelaku riset (evaluators), kelompok sasaran (target
groups), lembaga lain yang terlibat dalam pelaksanaan riset evaluasi
kebijakan.
b. Menetapkan
Kapan Hasil Riset Evaluasi Diperlukan
Batasan waktu diserahkan hasil riset
harus menjadi faktor penting, baik bagi pelaku riset maupun bagi lembaga atau
pihak yang membutuhkan riset. Bagi pelaku riset, batasan waktu dapat digunakan
untuk menyusun jadwal kegiatan riset yang akan dilakukan. Bila tidak ada
batasan waktu, pelaku riset sangat mungkin menyelesaikan riset lebih awal atau
terlambat ketika hasil riset diminta atau diperlukan. Jika lebih awal, hasil
riset bisa jadi bias karena masih terdapat durasi waktu yang memungkinkan
terjadinya perubahan atau perkembangan dari pelaksanaan suatu kebijakan
program. Demikan pula jika riset diserahkan terlambat maka hasil riset akan
mubazir (kurang bermanfaat). Bagi pihak yang memerlukan hasil riset, terutama
untuk membuat suatu kebijakan program, hasil riset yang diserahkan lebih awal sangat
mungkin kurang tepat digunakan sebagai masukan untuk membuat kebijakan publik
karena masih ada peluang terjadinya perubahan. Demikian pula kalau terlambat,
hasil riset tadi tidak digunakan oleh mereka yang membuat kebijakan publik.
Kebijakan publik telah dibuat, tetapi hasil riset baru diserahkan.
c. Menemukan
dan memformulasikan Tujuan Kebijakan
Sebagaimana telah disebutkan
sebelumnya, bahwa tujuan evaluasi kebijakan publi adalah menenukan derajat mana
suatu kebijakan program yang dibiayai oleh publik tujuannya telah dicapai. Oleh
karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan oleh pelaku riset kebijakan
adalah menemukan dan memformulasikan tujuan kebijakan publik yang akan
dievaluasi. Oleh karena suatu kebijakan program bisa jadi memiliki banyak tujuan,
maka menjadi sulit untuk mengidentifikasi tujuan dan kriteria yang dibuat dalam
suatu kebijakan program. Bisa jadi, masih belum terjadi kesepakatan di sekitar
apa yang menjadi tujuan kebijakan. Seringkali hanya sedikit yang menyetujui
dari suatu tujuan yang relatif penting. Bahkan, apa yang menjadi tujuan
kebijakan program tadi bertentangan satu sama lain. Oleh karena itu, suatu
tujuan program bisa jadi sulit didefinisikan dengan jelas, akibatnya sulit pula
menentukan kriteria pencapaian tujuan.
d. Menetapkan
Indikator Pencapaian Tujuan Kebijakan
Tujuan yang telah diformulasikan
dan dipilih untuk dievaluasi selanjutnya diukur dengan suatu pencapaian tujuan.
Pertanyaan yang dapat membantu dalam menentukan indikator pencapaian tujuan
adalah kapan dan bilamanakah suatu tujuan kebijakan program dikatakan tercapai?
Jawaban atas pertanyaan ini dapat dijadikan sebagai indikator pencapaian tujuan
kebijakan.
e. Menyusun
Instrumen Penelitian
Instrument penelitian yang
digunakan untuk mengumpulkan data perlu dirancang dan dipersiapkan sebaik
mungkin. Valid tidaknya data yang dikumpulkan merupakan salah satu faktor
penentu ketepatan dalam menggunakan instrument untuk mengumpulkan data. Desain
instrument penelitian harus dirancang sedemikian rupa agar mengarah pada
pencerminan pencapaian tujuan kebijakan utama. Penyusunan instrument penelitian
(terutama dalam bentuk angket) harus mendasarkan diri pada indikator-idikator
pencapaian tujuan kebijakan yang telah ditetapkan.
f. Menetapkan
Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Banyak pihak/lembaga yang dapat
dijadikan sebagai sumber data. Hampir setiap orang/lembaga dapat memberikan
data dan informasi yang dibutuhkan dalam riset. Akan tetapi, dari data dan
informasi yang diberikan oleh sumber data dan informasi tadi belum tentu valid, reliable,dan accountable.
Oleh karena itu, ketepatan dalam menentukan sumber data dan informasi menjadi
salah satu jaminan data dan informasi yang diperlukan valid dan reliable serta
dapat dipertanggungjawabkan (accountable)
kebenarannya.
Dalam riset evaluasi kebijakan
publik, sumber sekaligus sebagai teknik pengumpulan data dan informasi menurut
Weiss dalam Widodo (2009:134) dapat diperloleh melalui: interviews; questionnaires;
observation; rating (by press, staff, experts); psychometric tests of attitudes, values, personality, preferences, norms, beliefs; institutional
records; government statistics; test of information, interpretation, skills,
application of knowledge; projective tests; situational tests presenting the
responden with simulated life situations; diary evidence; clinical examinations;
financial records; dan documents (minute of board meeting,
newspaper accounts of policy actions, transcripts of trials).
2. Pelaksanaan
Riset Evaluasi Kebijakan
Aktivitas pelaksanaan riset
evaluasi kebijakan sama halnya ketika kita melakukan riset ilmiah lainnya.
Aktivitasnya berupa:
a. Pengumpulan
data
Teknik pengumpulan data (data collecting) yang digunakan dalam
riset evaluasi kebijakan publik dapat menggunakan teknik interview, questionnaire,
documentation, dan observation. Penggunaan teknik ini
sangat tergantung kepada macam dan jenis data yang akan dikumpulkan.
b. Pengolahan
data
Data yang telah dikumpulkan dari
lapangan langkah selanjutnya adalah dilakukan pengolahan data. Untuk mengolah
data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu:
1) Tahap
editing, data yang telah dikumpulkan
dari lapangan dilakukan pemilahan, pengelompokan, atau pengkategorian sesuai
dengan jenisnya.
2) Tahap
coding, adalah tahap pemberian kode
tertentu atas data yang telah diedit (dipilih, dikelompokkan, pengkategorian).
3) Tahap
tabulating, adalah tahap data yang
telah diberi kode tertentu tadi disusun dan dikumpulkan jadi satu sesuai dengan
jenisnya ke dalam tabel tabulasi.
c. Analisis
data
Teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik “deskriptif evaluatif” yaitu suatu teknik analisis dengan cara
menggambarkan data yang telah diolah dan mendiskusikan serta mengevaluasi
secara tajam dan detail sehingga menghasilkan suatu kesimpulan atas data yang
diolah tadi. Teknik analisis deskriptif evaluatif ini identik dengan teknik
yang digunakan dalam analisis kebijakan.
Analisis kebijakan juga menaruh
perhatian yang sama dengan riset evaluasi. Riset evaluasi dan analisis
kebijakan adalah identik. Namun sebenarnya riset evaluasi hanyalah salah satu
dari teknik analisis yang dapat digunakan dalam analisis kebijakan. Analisis
kebijakan mencakup aplikasi setiap metodologi yang sistematik untuk memecahkan
masalah publik. Sementara itu, riset evaluasi adalah bagian dari analisis
kebijakan karena riset evaluasi juga menerapkan metode statistik untuk masalah
publik. Cost benefit analysis, linear programming juga merupakan bagian
dari analisis kebijakan. Teknik analisis lain yang digunakan adalah teori
keputusan, game theory, quenning model,
teori matematika tentang probabilitas. Teknik probabilitas ini menunjukkan
bagaimanaa cara membuat keputusan dalam suasana yang tidak menentu pada masa
mendatang, informasi sedikit dan perilaku manusia sulit diramalkan.
Desain analisis dapat menggunakan
teknik experimental design mencakup
teknik before and after, quasi
experimental design, time series, dan sebagainya. Di samping itu, dapat
pula digunakan no experimental designs
yang mencakup one project before and after,
after only, after only with comparison group, dan comparative evaluation of programs. Masing-masing desain analisis
perlu waktu tersendiri untuk melakukan pembahasan.
d. Penyusunan
laporan
Berdasarkan data yang telah
dikumpulkan dan dianalisis, lanngkah selanjutnya menyusun draft laporan hasil
riset evaluasi. Susunan laporan riset evaluasi kebijakan harus mengikuti format
dan norma-norma yang ditetapkan dalam laporan riset evaluasi kebijakan publik.
Dalam laporan riset evaluasi ini setidaknya harus memuat temuan data,
kesimpulan, dan rekomendasi kebijakan.
3. Tindak
Lanjut
Draf laporan riset evaluasi
kebijakan sebelum diserahkan ke pihak yang berkepentingan perlu dilakukan
seminar terlebih dahulu. Hasil seminar digunakan untuk menyempurnakan draf
laporan riset evaluasi untuk menjadi laporan akhir. Laporan akhir riset
evaluasi kebijakan kemudian diserahkan kepada pihak yang berkepentingan untuk
ditindaklanjuti, terutama untuk membuat keputusan tentang nasib dari kebijakan
publik yang dievaluasi (the future of
public policy). Alternatif nasib kebijakan tadi sebagaimana telah
disebutkan antara lain meliputi:
- Kebijakan/ program/ proyek perlu diteruskan.
- Kebijakan/ program/ proyek perlu diteruskan dengan suatu perbaikan.
- Kebijakan/ program/ proyek perlu direplikasikan di tempat lain atau memperluas berlakunya proyek, dan
- Kebijakan/ program/ proyek harus dihentikan.
Edward A. Schuman dalam Winarno (2008:169) di sisi lain lebih masuk ke
sisi praktis dengan menggunakan enam langkah dalam evaluasi kebijakan, yaitu:
- Mengidentifikasi tujuan program yang akan dievaluasi,
- Analisis terhadap masalah,
- Deskripsi dan standardisasi kegiatan,
- Pengukuran terhadap tingkatan perubahan yang terjadi,
- Menentukan apakah perubahan yang diamati merupakan akibat dari kegiatan tersebut atau karena penyebab yang lain,
- Beberapa indikator untuk menentukan keberadaan suatu dampak.
Ada tiga jenis tahapan evaluasi sebagaimana dijelaskan Dunn (1994) dalam
Subarsono (2009:124-125), yakni:
1.
Evaluasi
semu;
Evaluasi semu (pseudo evaluatiaon) adalah pendekatan yang menggunakan metode
deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil
kebijakan, tanpa menanyakan manfaat atau nilai dari
hasil kebijakan tersebut pada individu,
kelompok, atau masyarakat. Asumsi yang digunakan adalah ukuran tentang manfaat
atau nilai merupakan sesuatu yang terbukti dengan sendirinya (self
evident) atau tidak kontroversial.
Dalam evaluasi semu analis secara
khusus menerapkan bermacam-macam metode (rancangan eksperimental-semu,
kuesioner, random sampling, teknik
statistik) untuk menjelaskan variasi hasil kebijakan sebagai produk dari
variabel masukan dan proses. Namun setiap hasil kebijakan yang ada (misalnya
jumlah lulusan pelatihan yang dipekerjakan, unit-unit pelayanan medis yang
diberikan, keuntungan pendapatan bersih yang dihasilkan) diterima begitu saja
sebagai tujuan yang tepat (dalam Mulyadi, 2016:102).
2.
Evaluasi
formal;
Evaluasi formal adalah (formal evaluation) adalah pendekatan yang menggunakan metode
deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil
kebijakan berdasarkan sasaran program kebijakan yang telah ditetapkan secara
formal oleh pembuat kebijakan. Asumsi yang digunakan adalah bahwa sasaran dan
target yang ditetapkan secara formal adalah merupakan ukuran yang tepat untuk
melihat manfaat atau nilai dari program dan kebijakan.
Dalam evaluasi formal analis
menggunakan berbagai macam metode yang sama seperti yang dipakai dalam evaluasi
semu dan tujuannya adalah identik untuk menghasilkan informasi yang valid dan
data dipercaya mengenai variasi-variasi hasil kebijakan. Meskipun demikian
perbedaannya adalah bahwa evaluasi formal menggunakan undang-undang,
dokumen-dokumen program, dan wawancara dengan pembuat kebijakan dan
administrator untuk mengidentifikasikan, mendefinisikan dan menspesifikkan
tujuan dan target kebijakan. Kelayakan dari tujuan dan target yang diumumkan
secara formal tersebut tidak ditanyakan. Dalam evaluasi formal tipe-tipe
kriteria evaluatif yang paling sering digunakan adalah efektivitas dan
efisiensi (Mulyadi, 2016:102-103).
Dalam model ini terdapat tipe-tipe
untuk memahami evaluasi kebijakan lebih lanjut, yakni menurut Plumbo dalam
Parsons (2006:549-553) dalam Mulyadi (2016:103-104) menjelaskan ada dua jenis
evaluasi, yakni evaluasi formatif pada fase implementasi kebijakan dan evaluasi
sumatif pada fase dampak kebijakan, yaitu
a.
Evaluasi formatif
Evaluasi yang dilakukan ketika
kebijakan/ program sedang diimplementasikan merupakan analisis tentang seberapa
jauh program diimplementasikan dan apa kondisi yang bisa meningkatkan
keberhasilan implementasi. Evaluasi formatif memonitor cara dimana sebuah
program dikelola atau diatur untuk menghasilkan umpan balik yang bisa berfungsi
untuk meningkatkan proses implementasi. Rossi dan Freeman (1993:163) dalam
Mulyadi (2016:103) mendeskripsikan model evaluasi pada tiga persoalan, yaitu
sejauh mana sebuah program mencapai target populasi yang tepat, apakah
penyampaian pelayanannya konsisten dengan spesifikasi desain program atau tidak
dan sumber daya apa yang dikeluarkan dalam melaksanakan program.
b.
Evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif (summative), yakni berusaha mengukur
bagaimana kebijakan/ program secara aktual berdampak pada problem yang
ditanganinya. Dalam fase pasca implementasi, evaluasi sumatif dimaksudkan untuk
memperkirakan efek dari intervensi. Ini pada dasarnya adalah model penelitian
komparatif; membandingkan, misalnya sebelum dan sesudah; membandingkan dampak
intervensi terhadap satu kelompok dengan kelompok lain atau antara satu
kelompok yang menjadi subjek intervensi dan kelompok lain yang tidak (kelompok
kontrol); membandingkan apa yang terjadi dengan apa yang mungkin terjadi tanpa
intervensi; atau membandingkan bagaimana bagian-bagian yang berbeda dari suatu
negara mengalami dampak yang berbeda-beda akibat dari kebijakan yang sama.
Evaluasi ini berusaha membuktikan bahwa kebijakan tertentu akan menimbulkan
dampak tertentu.
Selain evaluasi sumatif dan
formatif, evaluasi formal dalam Mulyadi (2016:104-105) dapat juga meliputi
Evaluasi Perkembangan, Evaluasi Proses Retrospektif, Evaluasi Eksperimental,
Evaluasi Hasil Retrospektif sebagai berikut:
a. Evaluasi
Perkembangan
Dalam varian ini evaluasi formal
berupaya untuk menunjukkan kegiatan/ aktivitas evaluasi kebijakan secara eksplisit
yang diciptakan untuk melayani kebutuhan sehari-hari staf program. Evaluasi
perkembangan yang meliputi beberapa ukuran pengontrolan langsung terhadap
aksi-aksi kebijakan, telah digunakan secara luas untuk berbagai situasi di
sektor-sektor publik dan swasta. Evaluasi perkembangan karena bersifat formatif
dan meliputi kontrol secara langsung, dapat digunakan untuk mengadaptasi secara
langsung pengalaman baru yang diperoleh melalui manipulasi secara sistematis
terhadap variabel masukan dan proses.
b. Evaluasi
Proses Retrospektif
Evaluasi proses retrospektif yang
meliputi pemantauan/ evaluasi program setelah program tersebut diterapkan untuk
jangka waktu tertentu. Varian ini cenderung dipusatkan pada masalah-masalah dan
kendala-kendala yang terjadi selama implementasi berlangsung, yang berhubungan
dengan keluaran dan dampak yang diperoleh. Evaluasi ini tidak memperkenankan
dilakukannya manipulasi langsung terhadap masukan atau proses.
c. Evaluasi
Eksperimental
Varian evaluasi eksperimental
adalah evaluasi kebijakan yang lahir dari hasil kondisi kontrol langsung
terhadap masukan dan proses kebijakan. Evaluasi eksperimental yang ideal secara
umum merupakan faktor “eksperimental ilmiah yang terkontrol”, dimana semua
faktor yang dapat mempengaruhi hasil kebijakan, dikontrol, dipertahankan
konstan, atau diperlakukan sebagai hipotesis tandingan yang masuk akal.
d. Evaluasi
Hasil Retrospektif
Evaluasi hasil retrospektif
meliputi pemantauan dan evaluasi hasil tetapi tidak disertai dengan kontrol
langsung terhadap masukan-masukan dan proses kebijakan yang dapat dimanipulasi.
3.
Evaluasi
proses keputusan teoretis.
Sedangkan evaluasi proses keputusan
teoritis (decision theoretic evaluation) adalah pendekatan evaluasi yang
menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil
kebijakan eksplisit diinginkan oleh berbagai stakeholders. Dalam hal ini, evaluasi proses keputusan teoritik berusaha untuk
menentukan sasaran dan tujuan yang tersembunyi dan dinyatakan oleh para stakeholder.
Menurut Mulyadi (2016:105-106)
salah satu tujuan utama dari evaluasi teoritis keputusan adalah untuk
menghubungkan informasi mengenai hasil-hasil kebijakan dengan nilai-nilai dari
berbagai pelaku kebijakan. Asumsi dari evaluasi kebijakan teoritis keputusan
adalah bahwa tujuan dan sasaran dari pelaku kebijakan baik yang dinyatakan
secara formal mupun secara tersembunyi merupakan aturan yang layak terhadap
manfaat atau nilai kebijakan dan program. Dan bentuk utama dari evaluasi
teoritis keputusan adalah penaksiran evaluabilitas dan analisis utilitas
multiatribut, keduanya berusaha menghubungkan informasi mengenai hasil
kebijakan dengan nilai dari berbagai pelaku kebijakan.
Tabel
4.1
Pendekatan
Evaluasi
|
Pendekatan |
Tujuan |
Asumsi |
Metodologi |
|
Evaluasi Semu |
Menggunakan
metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid tentang hasil
kebijakan. |
Ukuran manfaat
atau nilai terbukti dengan sendirinya atau tidak kontroversial |
1.
Eksprimentasi social 2.
Akuntansi sistem sosial 3.
Pemeriksaan sosial 4.
Sintesis sosial dan praktik |
|
Evaluasi
Formal |
Menggunakan
metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil kebijakan
yang secara formal diumumkan sebagai sasaran program kebijakan. |
Tujuan sasaran
dari pengambilan kebijakan dan administrator yang secara resmi diumumkan
merupakan ukuran yang tepat dari manfaat atau nilai |
1. Evaluasi
perkembangan 2. Evaluasi
Eksprimental 3. Evaluasi proses restropektif 4. Evaluasi
hasil restropektif |
|
Evaluasi
keputusan tepritis |
Menggunaka
metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpecaya dan valid
mengenai hasil kebijakan secara eksplisit diinginkan oleh berbagai pelaku
kebijakan. |
Tujuan dan
sasaran dari berbagai pelaku yang secara formal diumumkan atau didiamkan
merupakan ukuran yang tepat dari manfaat atau nilai |
1. Penilain
tentang dapat tidaknya dievaluasi 2. Analisis
unitilitas multivariat |
Sumber: Dunn (1994:407) dalam Subarsono (2009:125)
Apabila kita analisis berdasarkan teori evaluasi William Dunn di atas,
maka dilihat dari tingkat kevaliditasannya, antara evaluasi semu, formal dan
evaluasi keputusan teoritis, semakin ke bawah (ke evaluasi keputusan teoritis),
semakin valid hasil evaluasi yang dilakukan. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan
beberapa faktor yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini (Mulyadi, 2016:107).
Tabel 4.2
Faktor-faktor Pembanding dalam teori
evaluasi William Dunn
|
Faktor |
Evaluasi Semu |
Evaluasi Formal |
Evaluasi Keputusan
Teoritis |
|
Asumsi |
Ukuran penilaian sudah pasti dan tidak kontroversial |
Ukuran ppenilaian berdasarkan tujuan
dan target kebijakan yang telah ditetapkan |
Ukuran penilaian dari pendapat para pelaku kebijakan |
|
Sumber informasi |
Hasil di lapangan (kuesioner) |
|
|
|
Kriteria |
- |
Efisiensi Efektivitas |
Berdasarkan pelaku dan evaluator |
|
Waktu evaluasi |
Akhir Kebijakan |
Proses dan akhir kebijakan |
Proses dan akhir kebijakan |
Sumber: Mulyadi (2016:107)
3.
Penutup
3.1
Rangkuman
Tahapan riset evaluasi kebijakan dapat dikelompokkan dalam tiga kegiatan
pokok, yaitu:
1. Perencanaan
Riset Evaluasi Kebijakan
a. Menetapkan
Kebijakan Publik
b. Menetapkan
Kapan Hasil Riset Evaluasi Diperlukan
c. Menemukan
dan memformulasikan Tujuan Kebijakan
d. Menetapkan
Indikator Pencapaian Tujuan Kebijakan
e. Menyusun
Instrumen Penelitian
f. Menetapkan
Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
2. Pelaksanaan
Riset Evaluasi Kebijakan
a. Pengumpulan
data
b. Pengolahan
data
c. Analisis
data
d. Penyusunan
laporan
3. Tindak
Lanjut
Ada tiga jenis tahapan menurut Dunn yaitu:
1.
Evaluasi Semu
2.
Evaluasi Formal
a.
Evaluasi Formatif
c.
Evaluasi Sumatif
Selain evaluasi sumatif dan
formatif, evaluasi formal menurut Mulyadi meliputi Evaluasi Perkembangan,
Evaluasi Proses Retrospektif, Evaluasi Eksperimental, dan Evaluasi Hasil
Retrospektif.
3.
Evaluasi
Proses Keputusan Teoritis.
3.2 Tes Formatif
A.
Pilihan
Ganda
Pilhlah satu jawaban yang paling tepat!
1. Pendekatan yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan, tanpa menanyakan manfaat atau nilai dari hasil kebijakan tersebut pada individu, kelompok, atau masyarakat, disebut…
a. Evaluasi Formatif
b. Evaluasi Sumatif
c. Evaluasi Semu
d. Evaluasi Keputusan Teoritis
2. Pemantauan dan evaluasi hasil tetapi tidak disertai dengan kontrol langsung terhadap masukan-masukan dan proses kebijakan yang dapat dimanipulasi, disebut…
a. Evaluasi Proses Retrospektif
b. Evaluasi Hasil Retrospektif
c. Evaluasi Eksperimental
d. Evaluasi Perkembangan
3. Di bawah ini adalah yang termasuk aktivitas-aktivitas dalam perencanaan riset evaluasi kebijakan, kecuali…
a. Menetapkan indikator pencapaian tujuan kebijakan
b. Menetapkan sumber dan teknik pengumpulan data
c. Proses pengumpulan data
d. Menyusun instrumen penelitian
4. Pendekatan
yang dilakukan ketika kebijakan/ program sedang diimplementasikan merupakan
analisis tentang seberapa jauh program diimplementasikan dan apa kondisi yang
bisa meningkatkan keberhasilan implementasi, disebut…
a. Evaluasi Formatif
b. Evaluasi Sumatif
c. Evaluasi Semu
d. Evaluasi
Keputusan Teoritis
5. Evaluasi
yang cenderung dipusatkan pada masalah-masalah dan kendala-kendala yang terjadi
selama implementasi berlangsung, yang berhubungan dengan keluaran dan dampak
yang diperoleh, disebut…
a. Evaluasi Proses Retrospektif
b. Evaluasi Hasil Retrospektif
c. Evaluasi Eksperimental
d. Evaluasi
Perkembangan
6. Teknik analisis dengan cara menggambarkan data yang telah diolah dan mendiskusikan serta mengevaluasi secara tajam dan detail sehingga menghasilkan suatu kesimpulan atas data yang diolah tadi, disebut...
a. Asosiatif evaluatif
b. Deskriptif evaluatif
c. Kualitatif evaluatif
d. Kuantitatif evaluatif
7. Pendekatan
yang berusaha mengukur bagaimana kebijakan/ program secara aktual berdampak
pada problem yang ditanganinya, disebut…
a. Evaluasi Formatif
b. Evaluasi Sumatif
c. Evaluasi Semu
d. Evaluasi
Keputusan Teoritis
8. Tahap editing, tahap koding, dan tahap tabulating termasuk dalam proses…
a. Penyusunan instrument penelitian
b. Pengumpulan data
c. Pengolahan data
d. Analisis data
9. Evaluasi kebijakan yang lahir dari hasil kondisi kontrol langsung terhadap masukan dan proses kebijakan, disebut…
a. Evaluasi Proses RetrospektiF
b. Evaluasi Hasil Retrospektif
c. Evaluasi Eksperimental
d. Evaluasi Perkembangan
10. Pendekatan
evaluasi yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang
terpercaya dan valid
mengenai hasil-hasil kebijakan eksplisit yang diinginkan oleh berbagai stakeholders, disebut…
a. Evaluasi Formatif
b. Evaluasi Sumatif
c. Evaluasi Semu
d. Evaluasi
Keputusan Teoritis
B.
Essay
Untuk memperdalam pemahaman anda mengenai materi di atas, kerjakanlah
pertanyaan berikut!
- Jelaskan perbedaan antara evaluasi semu, evaluasi formal dan evaluasi keputusan teori!
- Jelaskan perbedaan dari Evaluasi Perkembangan, Evaluasi Proses Retrospektif, Evaluasi Eksperimental, dan Evaluasi Hasil Retrospektif!
Daftar Pustaka
Mulyadi, Deddy. 2016. Studi
Kebijakan Publik dan Pelayanan Publik: Konsep dan Aplikasi Proses Kebijakan
Publik Berbasis Analisis Buki untuk Pelayanan Publik. Penerbit Alfabeta.
Bandung.
Subarsono, AG. 2009. Analisis
Kebijakan Publik: Konsep, Teori dan Aplikasi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Widodo, Joko. 2009. Analisis
Kebijakan Publik: Konsep dan Aplikasi Analisis Proses Kebijakan Publik.
Bayumedia Publishing. Malang.
Winarno, Budi. 2008. Kebijakan
Publik Teori dan Proses. Media Pressindo. Jakarta.